DEPAN

DEPAN
Photobucket

Agen Intelijen Aktif Kumpulkan Informasi Melalui Facebook

Sabtu, 13 Februari 2010
0 komentar
Mengumpulkan informasi adalah pekerjaan utama dinas intelijen. Salah satu yang paling gampang adalah melalui informasi via Facebook

Hidayatullah.com--Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sangat populer. Tak hanya masyarakat umum, bahkan termasuk kalangan dinas rahasia. Melalui jejaring seperti itu, mereka bisa mengetahui lebih banyak tentang orang-orang yang sedang diamati.

Mereka menggunakan surel palsu dan stick USB yang sudah dijangkiti spyware. Dinas rahasia Belanda AIVD memulai kampanye penyuluhan mengenai bahaya spionase digital ini.

Peringatan Dinas Rahasia Belanda AIVD mengenai bahaya spionase, bukan hal baru. Tahun 2009, hal itu juga sudah menjadi tema utama dalam laporan tahunan AIVD. Yang baru adalah peringatan khusus mengenai spionase digital. Tidak ditujukan pada para profesional ICT atau masyarakat umum, tapi pada mereka yang memiliki informasi rahasia. Misalnya para pejabat negeri tertentu atau pengusaha perorangan di sektor-sektor yang dianggap 'peka'. Menurut AIVD, mereka harus lebih sadar akan bahaya yang mengintai.

Sebagai contoh, AIVD menyebutkan stick USB yang dibagi-bagikan dalam kongres di luar negeri. Sekilas, hal itu tampaknya tidak bermasalah, tapi dalam penelitian lebih jauh ternyata ada spyware di dalam stick USB itu. Tanpa sepengetahuan pengguna, mereka bisa meneruskan informasi politik atau ekonomi ke dinas rahasia asing.

Menurut Wil van Gemert, Direktur Keamanan Dalam Negeri AIVD, surel juga sering digunakan sebagai tujuan spionase.

"Contohnya, Anda bisa saja menerima surel dengan lampiran yang tampaknya biasa-biasa saja karena Anda anggota sebuah kelompok feed tertentu. Namun dalam lampiran itu terdapat Trojan Horse di komputer Anda," ujarnya.

Selain itu, menurut pihak AIVD, jejaring sosial populer juga menarik bagi dinas rahasia asing.

"Jejaring sosial seperti Facebook menjadi sumber sangat penting karena mengandung banyak informasi publik yang bisa digunakan oleh dinas intelijen asing untuk mendapat gambaran jelas mengenai orang-orang yang menarik bagi mereka," tambahnya.

AIVD terutama merujuk pada kegiatan mata-mata China dan Rusia di Belanda tahun-tahun belakangan. Tetapi Dinas Rahasia Belanda menjelaskan bahwa banyak negara lain yang juga tertarik mendapatkan informasi dari Belanda, bahkan negara-negara sahabat.

"Mengumpulkan informasi merupakan tugas dinas intelijen, dan ini tidak terbatas pada negara-negara tertentu. Ada banyak negara yang berminat terhadap informasi yang tersedia dalam masyarakat Belanda. Bukan hanya Rusia dan China saja."

 AIVD sendiri juga mengumpulkan informasi intelijen di luar negeri, juga menjaring informasi digital. Namun apa saja persisnya, dinas rahasia tidak bersedia membeberkannya. [rnwl/www.hidayatullah.com]
Baca selengkapnya »

Antara “Dialog Antaragama” dan Dakwah Islam

0 komentar
“Dialog Antaragama” adalah sebuah sajian intelektual yang nampaknya terasa lezat namun menyesatkan tanpa sadar.

www.hidayatullah.com--Dialog Antaragama sudah menjadi tren masa kini. Tren ini membawa problem serius di tengah-tengah umat, tidak saja pada dataran praktisnya, tapi juga membawa problem-problem teologis. Akan tetapi sayangnya, yang tampak indah dan menggiurkan itu ternyata telah prioritas lebih bagi banyak kalangan untuk menggalakkannya, bukan hanya karena ia ber-funding besar tapi juga karena keeolokan wacana yang membangunnya. Akhirnya yang tertangkap dalam kognisi umat bukan lagi agenda-agenda yang sejak berpuluh tahun dirancang oleh Vatikan itu, tapi lebih merupakan keelokannya sehingga tampak positifnya saja dan cenderung menafikan negatifnya.

Tulisan ini tidak akan membahas 'Kuda Troy' untuk yang kedua kalinya --karena sudah dibahas sebelumnya pada diskusi INSISTS Malaysia,  8 November 2009 lalu. Namun demikan, tulisan ini akan mengintip sekali lagi kata dialogue itu sendiri dan apa bedanya dengan ketika ia menjadi frase, Interfaith atau Interreligious Dialogue beserta implikasi-implikasinya secara singkat. Dan apabila suatu tren yang tengah berlaku ini sudah melibatkan sayap-sayap umat Islam di dunia, bagaimana posisi seorang Muslim dan bagaimana ia bersikap menghadapi tren ini? Pertanyaan kedua ini akan sedikit memberi bedahan pada bagian akhir dari tulisan ini.

Dialog, kristenisasi, dan deislamsasi
Jika kata dialog hanya merupakan kosakata biasa, belum menjadi frase, maka maknanya dalam beberapa kamus kurang lebihnya adalah, "a formal discussion between two groups or countries, especially when they are trying to solve a problem, end a dispute". Ia merupakan kata dari Yunani dialogos, dari dialegesthai yang bermakna 'berlawanan dengan' (converse with). Makna ini bisa dimaklumi bahwa ketika ingin berdialog atau mengkomunikasikan sesuatu mestilah ada obyek sebagai lawan dari subyek, mesti juga ada bahan yang akan disampaikan yang kerapkali memang berupa hal yang tidak disepakati oleh penerima. Dan harapannya, sebagai penerima akan menerima dengan sepenuh hati isi dari dialog, di mana di sana juga ada kesepakatan-kesepakatan bersama tentang suatu persoalan yang diputuskan, sebagaimana terdapat pada makna di atas.

Kata ini sepertinya biasa-biasa saja, karena dialog dengan makna ini bisa berlaku dalam semua aspek kehidupan dan oleh karena itu sepertinya lebih netral. Namun, akan menjadi tidak biasa lagi ketika sudah menjadi istilah baku seperti Interfaith atau Interrligiuos Dialogue, di mana dialog ini disatukan dalam frase berbau teologis, yang mendialogkan agama, ideologi, dan segala jenis keyakinan, satu ke yang lainnya. Maka tidak bisa dielakkan lagi muatan-muatan dan nilai-nilai mapan yang terkandung di dalamnya yang turut memproyeksikan agenda-agendanya. Muatan-muatan dan nilai-nilai mapan tersebut sudah didiskusikan pada diskusi INSISTS sebelumnya oleh Dr Syamsuddin Arif yang menyimpulkan bahwa itu merupakan kado Vatikan untuk umat beragama.

Walau bagaimanapun, ada saja yang mengatakan bahwa “Dialog Antaragama” itu sah-sah saja. Bahkan menurut mereka, ini ada dasarnya dalam Al-Quran dan Hadis dan dilaksanakan oleh para ulama terdahulu. Mungkin bagi mereka yang kurang paham agenda di balik Dialog Antaragama yang dicanangkan Vatikan ini akan terkesima dan berterima kasih dengan program-program yang dibuat. Sekedar memahaminya dari sisi kata dialog sebagai yang biasa-biasa saja, mungkin itu menjadikan beberapa pihak kepincut dengan dialog ini. Ajakan untuk menikmati sajian-sajian intelektual di dalamnya nampaknya terasa lezat, namun mengelirukan secara tidak sadar. Perombakan konsep-konsep yang baku dalam Islam mau tidak mau harus sedikit demi sedikit diterima. Maka tidak heran kalau dari dialog ini tidak pernah membincangkan perbedaan, tapi yang mereka cari dan mereka inginkan adalah persamaan, termasuk persamaan teologis dengan berbagai pirantinya.

Prof Dr Wan Mohd Nor Daud, dalam seminar menyongsong satu abad Muhammadiyah, di Universiti Islam Antarbangsa, Malaysia, baru-baru ini (12/12), mengingatkan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia ini agar sebaiknya jangan bersedap rasa dengan janji-janji pemuka agama Kristen dalam Dialog Interfaith, bahwa mereka sudah tidak lagi meneruskan aksi Kristenisasi, sebagaimana hal itu diperdengarkan oleh salah satu Pengurus Pusat Muhammadiyah waktu itu, yang pernah mendapat undangan menghadiri dialog semacam interfaith ini. Prof Wan menekankan bahwa yang perlu diketahui adalah aksi 'deislamisasi' yang telah berlaku dan akan terus berlaku di kalangan umat ini yang merupakan tren terakhir dan terbaru yang memancarkan satu epistemic value tertentu.

Sebagai strategi, mungkin kristenisasi tidak secara terang-terangan lagi dilancarkan, walaupun hal itu akan terus berlanjut. Sebab “kristenisasi” adalah watak agama Kristen itu sendiri, yang apabila watak ini hilang, maka agama Kristen itu bukan lagi Kristen.  Sebab dengan begitu sudah tidak ada kekristenan di dalamnya. Ibaratnya, walaupun macan sudah mengaku tidak lagi memakan kambing, ayam atau rusa, dll, tapi sebenarnya wataknya tetap seperti semula, tidak akan berubah. Harimau kebun binatang mungkin dia jinak karena semenjak kecil dia sudah terbiasa hidup dan diperlakukan secara baik oleh manusia. Namun bukan berarti itu akan menghilangkan sifatnya sebagai binatang buas. Suatu saat, naluri dasarnya pasti akan tetap muncul sebagai binatang buas.

Termasuklah soal Interfaith Dialogue. Meski agama-agama tertentu mengaku tidak lagi melancarkan usaha kristenisasi, namun sejatinya ia tetap akan berlaku, termasuk melancarkan deislamisasi.

Deislamisasi bermaksud merobohkan keislaman dari diri umat Islam dengan berbagai cara. Dengan deislamisasi, mereka pasti tidak secara langsung mengajak orang kepada kekristenan. Yang pasti mengajak kepada bagaimana memahami Islam tidak seperti hakekatnya Islam dipahami dalam Islam. Mereka menginginkan Islam dipahami sebagaimana yang mereka pahami. Inilah barangkali yang dirancang secara berkala oleh para penjajah Barat dahulu, yang tidak saja membawa misi 3 G;  gold, glory and gosple. Tiga misi penjajahan ini sangat umum dalam sejarah nasional kita di Indonesia, tapi hanya sekedar pengetahuan tanpa dipahamkan bahwa sebenarnya ekoranya terus berlanjut hingga kini. Dari ketiga misi itu Barat menginginkan superioritas di atas lainnya dalam semua bidang, termasuk di sisi ideologi dan keyakinan.

Gospel hanya satu kata kunci yang ingin menggiring umat jajahannya mengikuti misi mereka, dengan berbagai caranya. Tidak berhasil secara langsung, maka mereka akan memaksa secara tidak langsung. Kalau bagi umat Islam, salah satu caranya dengan menjauhkan pemahaman keislaman yang hakiki dari mereka dan menggantikan yang sebaliknya.

Dalam sejarah kolonialisme dan orientalisme, ini tidaklah suatu hal yang asing. Sebab di Indonesia, para kolonial dahulu sudah mengupayakan terciptanya kelompok "pro" mereka dari kalangan umat Islam itu sendiri, dan itu dilakukan dan dirancang sesistematis mungkin. Yang pro mereka ini maksudnya adalah mereka yang berpandangan sama seperti yang mereka inginkan. Merekalah nantinya yang akan aktif membendung aspirasi Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Setelah itu terwujud, maka para kolonialis dan orientalis tidak perlu capek-capek mempropagandakan program-programnya, karena yang menjalankan sudah dari kalangan umat Islam sendiri. Itulah juga yang terjadi pada Dialog Antaragama. Yang menganjurkan dialog ini bukan lagi dari mereka, tapi dari kalangan orang Islam sendiri kini.

Dakwah Islam Anti-Dialog?
Sepertinya, mendialogkan agama yang dipancarkan dari Dialog Antaragama (Interfaith Dialogue) ini jauh berbeda dari yang dikonsepsikan Dakwah Islam. Sebab, jika Dialog Antaragama selalu sibuk mencari kesepakatan-kesepakatan antaragama, yang tidak hanya di dataran yang simple-simple seperti toleransi, hubungan baik, saling menghargai, dll., tapi hingga yang berkaitan dengan teologis, seperti cara beribadah, konsep-konsep agama yang mapan, dan lain sebagainya, yang perlu diturunkan kadarnya, bahkan diganti konsepnya. Maka dakwah Islam seharusnya menyeru kepada sebaliknya. Artinya, dakwah Islam mengajak umat manusia kepada jalan Allah, beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul dengan membenarkan segala berita yang dibawa, patuh dan tunduk dengan segala perintah Allah Swt dan meninggalkan segala larangannya, mengakui Islam sebagai agama terakhir, syumul dan lengkap, dengan pengertian yang sudah mapan.

Jelas dengan seruan dakwah seperti itu menafikan pendekonstruksian konsep-konsep keislaman, penafian pengakuan kebenaran agama di luar Islam, dan jelas pula Islam menolak mencampuradukkan keyakinan. Walaupun begitu, bukan berarti Islam antidialog, karena Islam dalam menjalankan dakwahnya memerlukan dialog dengan semua pihak. Maka di sinilah letak persoalannya. Apakah kita mau mendialogkan agama versi Dialog Antaragama atau kita mau mendakwahkan agama versi Dakwah Islam? Sayangnya, Dialog Antaragama sudah kadung berjalan dan menjalar ke mana-mana.

Wan Suhaimi Wan Abdullah, Associate Professor di Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, dalam bukunya "Konsep Asas Islam dan Hubungan Antaraagama",  menggambarkan konsep dasar Islam dan hubungannya dengan non-Muslim dalam isu Dialog Antaragama, apabila dialog versi 'Kuda Troy' Vatikan ini betul-betul terjadi, maka menurutnya umat Islam boleh mengambil pelajaran sekurang-kurangnya dari tiga ayat yang ia ambil sebagai asas kepada menyikapi isu ini. Yakni surat al-Baqarah, 2: 256, surat Ali Imran, 3: 19, dan surat al-Nahl, 16: 125. Dari tiga ayat itu, berdasarkan pandangan mufassir mu'tabar seperti Ibn Kathir, al-Qurthubi, Jalalain, yang dia ulas, maka Wan Suhaimi membentangkan beberapa hasil analisisnya seperti di bawah ini.

Pertama, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Sebab paksaan itu bertentangan dengan sifat dan tabiat Islam yang menuntut umatnya menganuti dan menghayati Islam berdasarkan kefahaman dan keyakinan. Iman yang tidak didasarkan pada keyakinan yang mantap akan dipertanyakan kualitasnya, bahkan lebih dari itu, jika taklid semata-mata, maka akan dipersoalkan kesahihannya. Di samping itu, Islam itu sudah jelas kebenarannya. Hanya orang yang jahil saja yang tidak mengerti dan tidak menangkapnya. Tiada agama atau ideologi yang mempunyai suatu sistem yang lengkap dalam berbagai aspek kehidupan selain agama Islam. Oleh karena itu, tugas umat Islam sebagai rijal al-da'wah adalah menyampaikan kebenaran itu. Persoalan orang lain mau beriman atau tidak adalah persoalan hidayat, yang mana ketentuannya bukan di tangan manusia, melainkan di tangan Allah Swt.

Kedua, kehidupan manusia pada umumnya bisa dikaitkan dengan dua pilihan; memilih jalan yang sesat dan merugikan (taghut) atau jalan iman yang penuh keselamatan (Islam), dan tidak ada yang ketiga. Dalam masa yang bersamaan, apabila ingin selamat, maka dua hal, yakni mengingkari taghut sekaligus menerima tauhid, yang harus dilakukan seseorang untuk memperoleh nikmat dengan sebutan berpegang pada tali yang teguh (al-`urwah al-wuthqa), [al-Baqarah, 2: 256].

Ketiga, Islam adalah satu-satunya agama yang diterima oleh Allah Swt. Iman yang benar adalah iman yang menegaskan bahwa hanya Islam yang diterima oleh Allah Swt, (Ali Imran, 3: 85). Islam yang merangkumi I'tiqad dan amalan adalah satu-satunya ‘urwat al-wuthqa yang menyelamatkan. Konsep teologis yang dipancarkan tauhid adalah sebaik-baik konsep. Ia tidak sama dengan konsep agama, ideologi, dan cara pandang manapun di luar Islam.

Keempat, sikap manusia-lah sebenarnya faktor perselisihan di antara mereka. Kebenaran Islam sudah ditegaskan dengan jelas; jelas akidahnya, lengkap syariatnya, dengan sistem nilai dan sejarahnya yang berwibawa. Fakta berkaitan dengan Islam, ajaran dan kebenarannya bisa didapatkan dari berbagai sumber di mana pun dan dalam bahasa apapun dengan mudah.

Kelima, dakwah atau "dialog" yang berwibawa itu adalah berusaha menyampaikan kebenaran Islam sesuai dengan kondisi obyek dakwahnya. Oleh karenanya, hikmah, mau`izah hasanah ataupun jadal yang baik perlu dilakukan sebagai pendekatan yang relevan untuk diterapkan. Sekiranya mereka ikhlas untuk faham dan jika mendapat hidayat, mereka pasti akan beriman. Namun jika mereka hanya sekadar faham, tetapi tidak mendapat hidayat, mereka sekurang-kurangnya mampu untuk hidup bersama umat Islam secara harmoni. Oleh karena itu, usaha menyampaikan Islam ini bukan suatu yang mudah dilaksanakan. Pengetahuan keislaman yang dimiliki oleh seseorang penyampai dan cara pendekatan penyampaiannya sangat penting demi menyukseskan dakwahnya.

Kemudian, dari hasil analisis tafsir itu disimpulkan bahwa bagi umat Islam harus yakin, Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima berdasarkan ketetapan Al-Quran. Namun demikian, ‘tidak ada paksaan dalam agama’ dengan maksud bahwa umat Islam tidak boleh memaksa orang lain menerima Islam. Islam hanya perlu disampaikan dan diajarkan, bukan untuk dipaksakan penerimaannya. Oleh karenanya, menyeru kepada Islam hendaknya dilakukan dengan pendekatan hikmah, mau`izah hasanah dan jadal yang baik. Ini menggambarkan bahwa kewajiban ‘menyampaikan’ dibarengi dengan upaya dan memastikan pemahaman, hakikat, imej dan pelaksanaan Islam yang dapat ditampilkan dalam bentuk yang terbaik, sebagai contoh kepada umat yang lain, sebab itulah sebenarnya yang dituntut oleh ajaran asas Islam yang dipahami dari tiga ayat di atas.

Dari itu, bagi non-Islam, apabila mereka merasa Islam tidak benar, sehingga perlu mendakwai umat Islam dengan ajaran mereka, maka mereka perlu buktikan apa yang tidak benar dari Islam ini. Apabila gagal, maka sebaiknya mereka perlu menghormati walaupun tidak mau menganutinya. Karena Islam tidak memperbolehkan umatnya memaksa pemahaman kepada orang lain, maka janganlah mereka juga memaksa umat Islam dengan merendahkan kedudukan, menurunkan kadar agama, dan praktik ibadah mereka, walaupun atas nama pluralisme, liberalisme, kesatuan agama atau sebagainya. Mereka juga hendaklah membedakan di antara "Islam" dan "umat Islam". Islam merupakan agama yang sudah final dan sempurna. Apabila ada pemeluk Islam yang berbuat kejahatan, amoral, ekstremis, dan lain sebagainya, maka itu adalah perbuatan umatnya yang bukan berarti mengurangi kesempurnaan Islam itu sendiri.

Bagi kedua-dua pihak (Islam dan non-Islam), bahwa hendaknya berbincang secara aman, adil, objektif dan beretika serta menghargai faham masing-masing tentang agama; tentang Tuhan, praktik keagamaan, kehidupan dan pengalaman keagamaan; menerima dan menghargai hujah yang dicapai; masing-masing melihat sesama umatnya atau umat yang lain sebagai ‘pencari kebenaran’ yang perlukan bimbingan apabila salah, tentunya dengan cara yang bijak.

Dari uraian singkat di atas bisa ditegaskan bahwa sepertinya memang Dialog Antaragama tidak perlu diambil penting oleh orang Islam, sebab dialog itu kebanyakannya merugikan umat Islam. Sementara itu, apabila orang Islam yang sengaja atau tidak sengaja hadir dalam acara ini hendaknya memantapkan jati dairinya, izzah Islam, tidak bisa begitu saja ditukarkan atau disamakan dengan yang lain. Karena izzahnya itu, maka ia juga seharusnya mempunyai jati diri itu, sebagai posisi mantap dan berwibawa di depan umat manusia untuk selalu mendakawahkan agamanya, menyeru kepada jalan Allah Swt. Jadi, posisinya tetap sebagai seorang da'i yang menganjur dakwah Islam, bukan penganjur Dialog Antaragama.

Oleh karena itu, dengan posisi ini, umat Islam tidak perlu menurunkan atau merendahkan kewibawaan Islam, walaupun hanya diminta menyederhanakan terminologi-terminologi yang dianggap menyerang non-Islam seperti istilah kafir, musyrik, munafik, dan lain sebagainya, walaupun dengan dalih pluralisme, liberalisme, multikulturalisme, dan lain sebagainya. Yang hak dan batil tetaplah seperti apa yang disampaikan Al-Quran dan Sunnah, tak pernah berubah. Yang berbeda hanya penyampaiannya yang disesuaikan obyek dakwahnya, baik hikmah, maidzah hasanah, atau mujadalah yang lebih baik. [www.hidayatullah.com]
Baca selengkapnya »

Membangun Peradaban

0 komentar

Universitas Islam harus menjadi pelopor menciptakan manusia yang adil dan beradab agar dapat membangun peradaban bermartabat

Oleh: Hamid F. Zarkasyi
Belalang menjadi burung elang,
Kutu menjadi kura-kura,
dan Ulat berubah menjadi naga.

Itulah syair pujangga Abdullah Abdul Qadir al-Munsyi, ditulis pertengahan abad 19. Sekilas ia seperti sedang bicara evolusi Darwin, atau cerita bim salabim ala Herry Porter. Tapi sejatinya ia sedang bicara tentang perubahan yang aneh. Perubahan tentang bangsanya yang kehilangan adab.

Metafora ini mudah diterima oleh bangsa Melayu, tapi tidak bagi orang Jawa. Orang Jawa lebih mudah faham dengan dagelan “Petruk jadi ratu”. Ya dagelan, sebab ada perubahan status secara tidak alami atau tidak syar’ie. Bukan gambaran diskriminatif, bukan pula rasial, tapi loncatan status yang abnormal.

Munsyi tentu faham belalang mustahil jadi burung elang, kutu jadi kura-kura. Ia juga faham mengapa Tuhan mengizinkan kepompong bisa jadi kupu-kupu yang cantik. Tapi, yang ia gelisahkan mengapa ini bisa terjadi di dunia manusia. Semua orang berhak mencapai sukses, tapi mengapa sukses dicapai dengan mengorbankan moral. Kita menjadi lebih faham setelah membaca bait berikutnya:

“Bahkan seorang yang hina dan bodoh dapat pandai dan terhormat,

jika memiliki harta. Sedangkan orang miskin

tidak dipandang walaupun pandai dan terhormat”
.

Munsyi seperti sedang memberi tugas kita untuk menjawab. Dimana letak kesalahannya. Yang dengan cerdas menjawab adalah SM Naquib al-Attas, ulama yang juga pakar sejarah Melayu. Letak kesalahannya, katanya, ada pada lembaga pendidikan kita. Pendidikan kita tidak menanamkan adab. Adab adalah ilmu yang berdimensi iman, ilmu yang mendorong amal dan yang bermuatan moral.

Sumbernya ada dua: faktor eksternal dan internal. Yang pertama, karena besarnya pengaruh pemikiran sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan Barat. Yang kedua, karena lemahnya daya tahan tubuh umat Islam. Pendidikan kita tidak menanamkan adab. “Ritual” pendidikan memang terus berjalan, tapi maqasid-nya tidak tercapai. Lembaga pendidikan umat Islam bisa menghasilkan SDM bidang tehnik, ekonomi, kedokteran, manajemen, tapi tidak menghasilkan peradaban Islam.

Tanda-tanda alpanya adab sekurangnya ada 3: kezaliman, kebodohan dan kegilaan. Zalim kebalikan adil artinya tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dalam adab kesopanan orang Jawa disebut tidak empan papan. Jelasnya tidak bisa memahami dan menerapkan konsep secara proporsional. Artinya mencampur dua atau tiga konsep yang saling bertentangan. Seperti mencapur keimanan dengan kemusyirikan. Mewarnai amal dengan kemaksiatan dan kesombongan. Tauhid dengan faham dikotomis-dualistis, dsb.

Bodoh atau dalam bahasa al-Ghazzali hamaqah bukan jahil dan buta aksara. Bodoh tentang cara mencapai tujuan. Karena tidak tahu apa tujuan hidupnya, seseorang jadi bodoh tentang cara mencapainya.”Anda harus bisa kaya dengan segala cara” adalah bisikan Machiaveli yang diterima dengan sukarela. Korupsi, menipu, manipulasi, dan sebagainya pun bisa menjadi cara meniti karir. Anda bisa jual diri asal bisa jadi selebriti. Anda bisa jadi pejabat asal mahir menjilat dan berkhianat. Itulah mengapa Islam datang menawarkan jalan dan cara mencapai tujuan yang disebut syariah.

Gila artinya salah tujuan, salah menentukan arah dan tujuan hidup, salah arah perjuangan. Akarnya tentunya adalah hamaqah atau kebodohan; yang bodoh akan negeri impian akan bingung kemana akan mendayung sampan; yang bodoh akan arti hidup tidak akan tahu apa tujuan hidup; yang jahil tentang arti ibadah tidak akan pernah tahu apa gunanya ibadah dalam kehidupan ini. Akibatnya, aktivitas demi kepentingan pribadi (linnafsi), kehormatan diri (lil jah), harta (lil mal) tiba-tiba diklaim menjadi Demi Allah, (Lillah).

Jika pendidikan kita benar-benar menanamkan adab, mengapa peradaban Islam tidak kokoh berdiri. Mengapa kita begitu gengsi pada hutang luar negeri, tapi bangga memungut konsep-konsep pinjaman dari luar Islam. Mengapa kita hanya mampu menjustifikasi konsep-konsep asing dan tidak mampu membangun konsep sendiri?

Orang Barat begitu percaya diri dengan konsep ciptaannya, tapi mengapa kita tidak. Cardinal John Newman, misalnya, begitu yakin tentang gambaran universitas humanisme Kristen dalam The Idea of University, Defined and Illustrated. Karl Jasper dalam The Idea of University tegas menggambarkan konsep universitas humanis-eksistensialis. J Douglas Brown dalam The Liberal University-nya bisa menggambarkan dengan jelas pelbagai peran universitas dalam mencetak “manusia sempurna” ala Barat. Tapi mengapa identitas Islam pada universitas Muslim tidak nampak jelas. Mengapa Muslim malu-malu memerankan universitas Islam dalam membangun peradaban Islam.

Universitas Islam harus berani membangun konsep ekonomi Islam, politik Islam, sosiologi Islam, sains Islam, budaya Islam dan sebagainya. Universitas Islam harus bisa mencerminkan bangunan pandangan hidup Islam. Universitas Islam tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, tapi juga merupakan sumber gerakan moral dan sosial serta agen perubahan. Universitas harus menjadi pelopor dalam menciptakan manusia-manusia yang adil dan beradab agar dapat membangun peradaban yang bermartabat.
Baca selengkapnya »

Menyikapi Perbedaan dalam Perspektif Historis

0 komentar

Perbedaan yang terjadi di zaman Sahabat masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan Islam. Setiap masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah

DEWASA ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat. Selain tantangan eksternal seperti perang pemikiran dan peradaban, tantangan internal juga ikut menggerayangi tubuh umat Islam. Bahkan tantangan dari dalam inilah yang sebenarnya sangat berbahaya. Salah satunya adalah isu perbedaan yang sekarang ini --bagi sebagian besar kita-- masih belum dapat menyikapinya dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri lagi, banyaknya berbagai golongan dan bahkan aliran yang ada dalam tubuh Islam sekarang ini memicu kontroversi tersendiri di kalangan kita, khususnya umat Islam di Indonesia. Tengok saja perdebatan yang sering terjadi antara sesama Muslim. Satu golongan menyalahkan golongan yang lainnya. Satu kelompok merasa hanya kelompoknya sajalah yang paling benar.

Maka serasa sangat penting sekali jika kita mencoba membuka mata dan pikiran kita lagi dalam menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Umat Islam sekarang harus pandai dalam menanggapi kondisi umat seperti ini, di tengah panasnya temperatur perang pemikiran dan musuh-musuh Islam yang berada dalam selimut. Untuk itulah tulisan ini mencobanya memberikan pencerahan berpikir dalam menanggapi itu semua dari perspektif sejarah.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Perbedaan itu merupakan hal yang lumrah adanya. Karena pada dasarnya setiap manusia itu diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan antara satu dengan yang lainnya. Ada yang diberikan Allah kepandaian dan kecerdasan yang baik dalam memahami ajaran agama Islam, namun ada juga yang tidak. Dari kalangan sahabat Rasulullah dulu, ada yang diberikan Allah hafalan yang kuat sehingga dapat menghafal wahyu Al-Quran dan hadist Rasulullah, ada juga yang hafalannya kurang.

Pada masa Rasulullah SAW, perbedaan pun juga sudah terjadi. Namun setiap perbedaan pendapat dan permasalahan umat yang muncul dapat langsung diselesaikan melalui beliau. Pada masa Rasulullah ini sumber utama ajaran Islam hanyalah Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Oleh karena itulah tidak ada masalah internal berarti yang dapat mewarnai kehidupan umat Islam ketika itu. Tentu saja ini salah satu kelebihan bagi umat yang hidup di zaman tersebut, sehingga tidak salah lagi apabila generasi Sahabat tersebut diberi julukan generasi terbaik.

Selanjutnya ketika Rasulullah telah tiada, maka beberapa perbedaan di kalangan umat Islam ketika itu telah bermunculan. Mulai dari masalah pemerintahan, sampai akhirnya berujung kepada aliran keagamaan sendiri dalam Islam. Pada masa Sahabat ini, rujukan umat Islam adalah Al-Quran, Sunnah Nabawiah, ijma', dan ra'yu. Dua rujukan terakhir ini adalah salah satu bentuk untuk menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang ada di kalangan Sahabat, selain adanya permasalahan yang baru muncul yang tidak dibahas dalam Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Namun meskipun demikian, tentu saja yang menjadi rujukan utama dan landasan dari dua rujukan terakhir tetap Al-Quran dan Sunnah Nabawiah.

Dakwah Islamiyah di masa Sahabat ini telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perluasan wilayah Islamiyah ini adalah salah satu faktor adanya beberapa perbedaan di kalangan Sahabat. Perbedaan adat dan kultur masyarakat dari tempat yang berbeda-beda itulah sebab utamanya. Kultur Arab yang sangat kental pada masyarakat Madinah, berbeda dengan kultur masyarakat Iraq yang ketika itu masih terpengaruh dengan budaya Persia, dan berbeda juga dengan kulturnya masyarakat Mesir dan Syam yang masih menyimpan nilai-nilai budaya Romawi.

Namun perbedaan yang terjadi di antara Sahabat akibat dari faktor tersebut masih dalam ruang lingkup untuk kemaslahatan umat Islam. Dan perbedaan yang terjadi ketika itu pun sangat sedikit sekali. Salah satu sebabnya karena para Sahabat masih banyak yang berada di Madinah, khususnya di zaman Khalifah Abu Bakar ra dan Khalifah Umar ibn Khathab ra, sehingga setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Pada masa Tabi'in, wilayah Islam semakin luas lagi. Tentu saja semakin beragam pula kultur umat Islam yang melatarbelakanginya. Maka wajar  ketika masa ini berkembang madrasah yang saling berbeda metode pengambilan hukumnya, khususnya dalam penggunaan ra'yu, yaitu Madrasah Ahlul Hadist di Madinah dan Madrasah Ahlul Ra'yi di Iraq.

Salah satu faktor penyebab berkembangnya Madrasah Ahlul Hadist adalah pengaruh yang diterima Tabi'in dari para Sahabat seperti Zaid ibn Tsabit dan Abdullah ibn Umar. Sedangkan Madrasah Ahlul Ra'yi mendapat pengaruh dari Abdullah ibn Mas'ud yang telah lama bermukim di Kufah sejak zaman Khalifah Umar ibn Khathab ra.

Beranjak ke masa Tabi'at tabi'in, kajian ilmu fikih dan berbagai cabang ilmu lainnya mencapai puncak kegemilangannya. Di mana pada masa inilah banyak ulama Mujtahid bermunculan. Sebagai contoh, munculnya berbagai macam mazhab fikih. Tentu saja perbedaan dalam ijtihad lebih beraneka ragam lagi.

Perbedaan pendapat yang muncul di kalangan ulama terdahulu, sebenarnya hanya berkisar pada masalah furu'iyah atau cabang-cabang fikih saja. Itu pun disebabkan metode yang mereka gunakan untuk mengambil hukum fikih tersebut berbeda-beda. Misalnya dalam menentukan suatu hukum yang belum ada dibahas dalam Al-Quran dan Hadist, Imam Malik mengedepankan perbuatan penduduk Madinah, karena menurut beliau segala sesuatu yang berkenaan dengan cara beribadah penduduk Madinah tidak mungkin kalau bukan hasil dari melihat perbuatan Rasulullah yang diturun-temurunkan generasi ke generasi. Berbeda dengan Imam Syafi'i yang lebih mengedepankan Ijma' (kesepakatan para ulama) setelah Al-Quran dan Hadist.

Begitulah sekilas gambaran perjalanan perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam. Intinya agama Islam itu satu, dan tidak ada berbagai macam jenis Islam yang lainnya. Sedangkan perbedaan pendapat dan golongan itu adalah bentuk dari pengembangan pemikiran Islam. Namun perlu digarisbawahi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut hanya dalam ranah furu'iyah saja. Jika kemudian perbedaan yang berkembang justru menjurus kepada perbedaan akidah dan tauhid, maka tentu saja dalam hal ini kebenaran atau yang haq itu harus kita kedepankan. Karena batasan dan rambu-rambu yang digambarkan Islam dalam wilayah tauhid dan akidah itu sudah sangat jelas.

Jika ada yang mencoba untuk mengubah rukun Iman dan rukun Islam, maka ini harus kita perangi. Jika ada yang mengatakan Al-Qur'an hanyalah produk budaya, ini pun juga harus kita perangi. Jika ada yang memperbolehkan perkawinan homoseksual, pemikiran seperti ini jelas telah menyimpang dari koridor yang telah ditentukan Islam. Namun cara memeranginya pun juga harus baik. Jika kita diserang dengan pemikiran seperti itu, maka untuk membalasnya tentu saja juga dengan pemikiran juga, bukan malah dengan kekerasan.

Jika hal seperti ini yang terwujud di antara umat Islam di Indonesia sekarang ini, maka serasa indah Islam itu  dijalankan. Penilaian-penilaian negatif tentang Islam dan perpecahan, Islam dan kekerasan, hingga Islam dan terorisme, harus segera kita hentikan. Caranya yaitu dengan membangun kembali image Islam yang cinta damai, yang profesional dalam menanggapi segala perbedaan. Image itu akan tumbuh tergantung bagaimana kita menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan kita.
Baca selengkapnya »
0 komentar

Fundamentalisme dan Kegagalan Liberalisme

Dalam bahasa Arab, fundamentalisme diartikan ushuliyyah (dasar, pokok, pondasi) yang merujuk Al-Quran, as-Sunnah. Tapi mengapa tiba-tiba diartikan menjadi negatif?

Images.com/CorbisPasca kejadian 11 september di Amerika, istilah terorisme selalu diidentikkan dengan “Islam fundamentalis”. Setidaknya jika terjadi pengeboman, maka Islam (AS menyebunya “Islam fundamentalis” akan selalu dibawa-bawa sebagai salah satu pelakunya) walaupun bukti akurat belum ditemukan.

Istilah fundamentalis tidak saja disebut sebagai “teroris” dan pembuat kekerasan atas nama agama, namun fundamentalis juga di identikan dengan orang yang tidak toleran, jumud dan terbelakang.

Bahkan, tak kalah naifnya, ilmuan dan cendekiawan Muslim ikut memasarkan istilah itu dengan mengatakan bahwa keterpurukan umat Islam sekarang adalah dikarenakan faham fundamentalisme. Lalu diagungkanlah liberalisme, sebagai suatu faham yang diyakini sebagai sumber kemaslahatan dan kemajuan dunia. Benarkah bahwa liberalisme merupakan sumber kedamaian di dunia ini dan benarkah fundamentalisme sebagai biang keladi ketidak harmonisan dan anti kedamaian?

Fundamentalisme dan akar Kristen

Fundamentalisme secara terminologi berasal dari kata fundamental yang mempunyai makna basic and important ( mendasar dan pokok) seperti pada kalimat “There is a fundamental difference between your opinion and mine.” ( Miranda Steel:2002). Sehingga fundamentalisme merupakan usaha untuk mempertahankan dan mengamalkan ajaran-ajaran pokok suatu agama.

Kata ini pada mulanya muncul dalam agama Kristen, dalam sebuah rapat Nothern Baptist Convention tahun 1920, Curtis Lee Laws mendefinisikan fundamentalis sebagai seorang yang siap untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke Antikristus dan melakukan pertempuran agung untuk membela dasar-dasar agama (Karen Armstrong:2002) Bulan Agustus 1917, William Bell Riley berunding dengan A.C. Dixon (1854-1925 M) salah seorang editor buku The Fundamentals, dan revivalis Reuben Torrey (1856-1928 M), memutuskan untuk membuat World Christian Fundamentals Association (WCFA) yang bertujuan untuk menyebarluaskan intrerpretasi injil.

Dalam bahasa Arab kata fundamentalisme diartikan ushuliyyah yang berasal dari kata ashlun, yang mempunyai arti tidak jauh berbeda dengan kata Inggrisnya, yaitu dasar, pokok, pondasi. Seperti dalam ushul fikih, kita mengenal pengertian ashlun sebagai ma bunia alaihi ghairuhu (pondasi). Islam mempunyai ushul sebagai landasan ajarannya, seperti Al-Quran, as-Sunnah, ilmu tafsir, ilmu hadits, fikih dan ushul fikh-nya. Jadi ushuliyyah adalah orang-orang yang memegang teguh pokok-pokok ajaran suatu agama. Sehingga penulis berkesimpulan bahwa kata fundamentalisme ataupun ushuliyyah tidak mempunyai konotasi negative meski penulis tidak setuju jika terorisme, radikalisme , bom bunuh diri yang dilakukan bukan pada wilayah perang, dan pemikiran jumud dinamakan fundamentalisme atau ushuliyyah, karena hal tersebut bertentangan dengan ushul Islam.

Bagi penulis kata ushuliyyah lebih tepat ditempatkan bagi orang-orang yang benar-benar memegang teguh ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Quran, sunnah, atsar sahabat dan mashadir Islam lainnya. Meminjam ungkapan Yusuf Qardhawi, kalaulah sejak dulu Islam mengajarkan dan disebarluaskan dengan cara perang dan kekerasan, maka tidak mungkin Islam diterima begitu luas oleh masyarakat dunia (Yusuf Qardhawi: Khatbu as-Syaikh al-Qaradhawi).Adapun mengenai Fatwa sesat MUI terhadap aliran-aliran sesat tentunya hal ini bukanlah sikap radikal atau ekstrim, karena menurut fitrah dan akal manusiapun merupakan suatu hal yang wajar, dimana seorang manusia ataupun budaya tidak akan ada yang mau, jika ada yang merubah dan mencela identitas aslinya.

Kegagalan Liberalisme

John Stuart Mal (1806-1873 M) dalam bukunya On Liberty, sebagaimana yang dikutip oleh Abdu ar-Rahim bin Somail as-Silmy dalam bukunya, al-Libraliyah;Nasyatuha Wa Majalatuha, memberi pengertian bahwa liberalisme bukan hanya dalam masalah politik dan ekonomi, sebagaimana yang diusung oleh John Lock dan Smith, akan tetapi liberalisme adalah kebebasan yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Selanjutnya dia mengomentari masalah agama, bahwa komunitas beragama tidak termasuk liberal sebab mereka dikekang oleh oleh kesewenangan agama itu sendiri, dia juga mengkritik kepada seluruh agama dan kepada masyarakat yang fundamental dalam menjalankan ajarannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa inti dari liberalisme adalah menghilangkan ajaran agama dari muka bumi ini. Dan konsekwensi dari hilangnya agama tentunya tidak adalagi yang namanya kebenaran hakiki, semua orang bebas berbuat dan bebas berpikir untuk mengeluarkan pendapat atau menerima dan memegang suatu pendapat. Sampai walaupun pendapat itu dapat menghancurkan kehidupan dunia. Benar dan salah hanya milik orang atau suatu Negara yang kuat atau dengan istilah lain siapa yang kuat dia yang dapat (huku rimba), Dengan kekuatannya yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar dan itulah yang terjadi di dunia sekarang ini.

Salah satu bukti bahwa liberalisme berakibat dapat memegang suatu pemikiran yang walaupun pemikiran itu berbahaya, adalah teori-teori Darwinisme yang banyak diagung-agungkan oleh dunia Barat (sebagai pengagum liberalisme). Darwinisme mengajarkan tentang seleksi alam dan rasisme, sehingga teorinya telah melahirkan berbagai pemikiran dan gerakan terorisme seperti Nazi, Zionisme dengan rasisme Yahudinya, Marxisme dengan teorinya bahwa sejarah manusia adalah sejarah peperangan antar kelas masyarakat, kolonialisme dan kapitalisme.

Robert Wright dalam bukunya The Moral Animal sebagaimana dikutip oleh Harun Yahya mengatakan:“Tidak dapat dipungkiri, teori evolusi memiliki sejarah panjang yang kelam dalam penerapannya pada hubungan antar manusia. Setelah bercampur dengan filsafat politik di sekitar peralihan abad ini, untuk membentuk ideologi yang tidak jelas, yang dikenal dengan “Darwinisme Sosial”, ideologi ini digunakan oleh kaum rasis, fasis dan kapitalis yang tidak memiliki hati nurani”( Harun Yahya, The Disasters Darwinism Brought to Humanity,2001)

William Jennings Bryan (1860-1952 M), seorang politisi dari kubu demokrat yang juga seorang Presbiterian (gerakan Calvinisme yang didirikan di Scotlandia) pada tahun 1920, dia melancarkan kampanye menentang diajarkannya teori evolusi disekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Menurut pandangannya, bahwa darwinismelah yang bertanggung jawab terhadap kekejaman Perang Dunia I (Karen Armstrong:2002). Aksi penjajahan yang sekarang banyak dilakukan Israel , Amerika dan sekutunya telah melahirkan gerakan bom bunuh diri sebagai langkah pembalasan terhadap kejahatan mereka. Hal ini tentunya tidak mungkin terjadi, kalaulah mereka tidak lebih awal melakukan penjajahan. Jadi inti dari serangkaian terorisme – baik penjajahan yang dilakukan amerika dan sekutunya ataupun serangkaian bom bunuh diri sebagai balasan yang ditujukan kepada mereka-- yang terjadi selama ini adalah mereka sendiri yang menciptakan.

Bukti lain kegagalan liberalisme adalah kejadian rentetan pembantaian di dunia pendidikan Barat yang selama ini mendengung-dengungkan kebebasan. Pembantaian plus bunuh diri itu dilakukan tanpa alasan yang kongkrit, atau bisa dikatakan semuanya terjadi dikarenakan kekosongan jiwa dari ruh agama sehingga mengakibatkan prustasi dan hilangnya tujuan hidup. Belum lagi hal ini dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa yang seharusnya ilmu yang didapat memberikan pencerahan dan cahaya bagi hidupnya, dengan ini menunjukan kegagalan pendidikan Barat. Diantara rentetan pembantaian yang terbesar adalah, di Amerika sampai sekarang telah terjadi sedikitnya delapan kali, 1989 terjadi di sekolah Stockton California, 5 orang tewas, 1998 di sekolah yang berada di Jonesboro Arkansas, korban 6 orang, 1999 di sekolah Colombine Colorado, 13 orang tewas, 2005 remaja 16 tahun membunuh 5 orang disekolahnya, tahun 2006 seorang remaja menembaki 11 remaja putri, 5 orang tewas, 2007 32 orang tewas dibantai di Universitas Virginia Tech. Tahun 2008 seorang siswi membunuh rekannya sebelum bunuh diri dan yang terakhir kemarin 14 februari 2008 18 orang tertembak di Universitas Northern Illinois, 5 orang tewas. Belum lagi yang terjadi di Negara barat lainnya seperti, 1989 di Universitas Montreal Kanada 14 orang tertembak oleh seorang pria termasuk pelakunya bunuh diri, 1996 di Dublane Skotlandia 16 anak dan seorang guru di bantai dan tahun 2002 di Jerman, seorang siswa marah dan menembak 16 orang termasuk 12 guru dan 2 siswa (detik.com, 15/02/2008).

Atas nama kebebasan juga telah melahirkan pemikiran yang belakangan ini menjamur di Indonesia yakni kebebasan berekspresi sehingga tidak ada lagi batasan antara yang layak dan tidak layak dipertontonkan di halayak umum.

Undang-undang pornografi dan pornoaksi pun banyak ditentang karena melanggar hak kebebasan, padahal semuanya itu yang telah menimbulkan kejahatan yang sama bahayanya dengan terorisme, seperti menjamurnya kasus aborsi, pembunuhan bayi, perdagangan manusia, kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur, pemerkosaan, anak-anak terlantar, homoseks, seks bebas dan lain sebagainya.

Semua itu yang pada mulanya merupakan hal yang tabu dan sangat jarang terjadi namun dengan adanya kebebasan berekspresi hal itu menjadi suatu yang lumrah dan mungkin lama-lama kelamaan akan dianggap wajar, padahal hal itu jika terus terjadi akan menghancurkan kehidupan manusia sendiri.

Jadi akankah umat Islam terus disudutkan sebagai manusia pembuat kekacauan dan ketidakharmonisan? Ataukah atas nama kebebasan itu sendiri yang telah menghantarkan dunia menjadi kacau dan tidak harmonis?.

Dan kita harus memilih mana? Memilih Islam yang liberal yang membolehkan melakukan apa saja tanpa aturan atau Islam yang fundamental (ashlun) yang dalam kata aslinya merujuk pada andasan ajarannya, seperti Al-Quran, as-Sunnah, ilmu tafsir, ilmu hadits dan fikih?[www.hidayatullah.com]
Baca selengkapnya »

Ust. Abdullah Said

Senin, 21 Desember 2009
0 komentar
Muhsin Kahar dilahirkan tepat pada hari proklamasi kemerdekaan R.I. Jum’at, 17 Agustus 1945 di sebuah desa bernama Lamatti Rilau, salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Letaknya berada pada ketinggian sehingga dari desa ini dapat terlihat jelas hamparan pulau-pulau yang ada di perairan Teluk Bone. Terutama Pulau-pulau Sembilan yang terdiri dari Pulau Kambuno, Pulau Liang-Liang, Pulau Burung Lohe, Pulau Batang Lampe, Pulau Kodingareng, Pulau Katindoang,  Pulau Kanalo Satu, Pulau Kanalo Dua dan Pulau Larearea. Pemandangan ke arah hamparan pulau-pulau inilah yang membuat perasaan agak terbuka atas keterpencilan kampung ini.

Pada saat kelahirannya, ayahnya, Kyai Abdul Kahar Syuaib menjabat sebagai Imam di Kampung Lamatti yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Panreng (dalam bahasa setempat panreng berarti kuburan). Karena ayahnya seorang ulama yang kharismatik di tempat itu, sehingga keluarganya mendapat tempat tersendiri dimata masyarakat. Ayahnya lebih populer dikalangan masyarakat dengan sebutan Puang Imang,[1] karena cukup lama menjadi imam di kampung itu.

Nama Muhsin Kahar berubah menjadi Abdullah Said pada saat menjadi buronan sehubungan dengan Peristiwa pengganyangan perjudian di Makassar yang disebut lotto (lotre totalisator) yang dia dalangi pada  Hari Kamis 28 Agustus 1969.

Ayahnya tiga kali nikah tapi tidak dengan memadu, menghasilkan 12 orang anak. Ibu Muhsin Kahar bernama Aisyah, lebih dikenal dengan panggilan Puang Ica.  Merupakan istri terakhir dinikahi setelah istri pertama dan kedua meninggal dunia. Puang Ica melahirkan empat orang anak semuanya laki-laki: Junaid Kahar (Puang Juna), Lukmanul Hakim Kahar (Puang Luke’)[2], Muhsin Kahar (Puang Esseng) dan As’ad Kahar (Puang Sade’).

Dari istri pertama, Nafisah  lahir dua orang anak: Asiah Kahar, meninggal dalam usia 3 tahun  dan Muhammad Djamil Kahar (Puang Milu).

Dari istri kedua, Bun-yamin (Puang Bune), lahir Zubair Kahar (Puang Bere'), Juhaefah Kahar (Puang Efah), Radhiyah Kahar (Puang Radi), Maryam Kahar (Puang Mari’), Hamdanah Kahar (Puang  ‘Ndah) dan Sitti Zulaiha Kahar (Puang Itti).

Ketika masih dalam kandungan sempat menjadi bahan perbincangan dikalangan keluarga. Karena usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun sang anak belum juga lahir. Hanya ayahnya yang selalu mengingatkan sang ibu agar tetap bersabar menunggu kelahirannya sampai kapanpun yang dikehendaki oleh Allah SWT. Pendapat itu diperkuat oleh pamannya, sorang ulama , K.H. Hasan Syuaib, Kadhi Bulo-Bulo di Sinjai, ayah kandung K.H.Ahmad Marzuki Hasan yang populer dengan sebutan Kali Cambang. Sejak usia kandungan itu memasuki tahun kedua timbul tanggapan miring bahwa mungkin yang dikandung itu bukan manusia. Mungkin buaya atau entah apa. Sang ayah marah besar kalau mendengar tanggapan miring seperti itu. Karena ada keyakinan dalam hati sang ayah bahwa anak yang dikandung itu kelak akan jadi orang hebat, sebagaimana halnya Imam Syafi’i  yang juga lama dalam kandungan.

Akhirnya bayi yang tadinya mencurigakan itu lahir juga dalam keadaan normal dan sehat layaknya bayi-bayi  pada umumnya di sebuah rumah di Kampung Panreng. Kampung yang juga tempat kelahiran beberapa orang yang tergolong tokoh seperti K.H.Ahmad Marzuki Hasan, mantan Kepala Kementerian (KpK)  Dalam  Negeri dan KpK Penerangan - DI/TII dibawah pimpinan  Abdul Qahhar Mudzakkar,  mantan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara, Pendiri Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maccopa-Maros  Sulsel. Juga kampung kelahiran Drs. H. Muhammad Suyuthi PaE, mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulsel, dosen senior IAIN Alauddin Makassar. Dan juga kampung kelahiran seorang mantan pejabat pusat Departemen Perhubungan, Ir. H. Andi Sulthan Said, yang menyelesikan pendidikannya di Jepang kemudian menjadi  Direktur Utama (Dirut) BKI (Badan Klasifikasi Indonesia).

Pada saat kelahirannya kampung ini masih sangat ketinggalan dari segi pembangunan fisik. Jalanan dari kampung ini menuju ibu kota kabupaten jauh dari apa yang terlihat sekarang, yang sudah beraspal dengan kendaraan sepeda motor dan kendaraan roda empat yang tidak putus-putusnya. Waktu itu orang-orang kampung yang ingin berkunjung  ke kota kabupaten umumnya berjalan kaki, paling banter menggunakan sepeda engkol atau menunggang kuda. Sehingga jarak yang begitu dekat, empat kilometer,  harus ditempuh dengan waktu yang cukup lama.

Kota Sinjai yang merupakan ibukota Kabupaten Sinjai sendiri masih sangat jauh tertinggal dibanding kota-kota lain di Indonesia. Penerangan listriknya yang dikelola oleh MPS (maskapai perusahaan sejenis), masih redup-redup. Bahkan hingga akhir tahun enampuluhan Sinjai masih tergolong daerah yang sangat tertinggal. Dalam sebuah majalah terbitan ibu kota pernah memuat sebuah iklan yang mempromosikan salah satu jenis obat yakni salonpas, berbunyi, “Dikenal mulai dari Jakarta sampai Sinjai”. Ini menggambarkan betapa tertinggalnya Kabupaten Sinjai.

Namun bagaimanapun tertinggalnya dari segi pembangunan fisik tapi maraknya kehidupan beragama patut dibanggakan. Orang tuanya sendiri sebagai ulama di kampung itu sekaligus sebagai imam di Tingkat Distrik (kecamatan sekarang) memiliki banyak murid yang belajar padanya. Demikian pula di kota Sinjai ada dua ulama besar, K.H.Muhammad Thahir yang menjadi kadhi di Balangnipa yang dikenal dengan sebutan Kali Thahirong dan K.H. Hasan yang menjabat sebagai Kadhi Bula-Bulo yang dikenal dengan sebutan Kali Cambang. Kondisi ini sangat menolong pertumbuhan spritual Muhsin kecil. Sehingga ketertinggalan yang dialami kampungnya serta daerah Sinjai pada umumnya baginya mengandung hikmah yang besar.  Karena dengan demikian involusi moral yang terjadi di kota-kota besar tidak sempat merembes ke daerah ini. Terhambat oleh transportasi yang belum lancar, disebabkan jalanan belum licin, jembatan banyak mengalami kerusakan. Apalagi memang kendaraan waktu itu masih dapat dihitung jari. Bacaan-bacaan yang dapat merusak moral anak belum banyak dikenal masyarakat. Pemilik pesawat radio saja  masih sangat terbatas, disebabkan tingkat perekonomian masih sangat rendah.

Untuk pendidikan dasarnya dia sangat tertolong dengan adanya Sekolah Dasar yang waktu itu bernama Sekolah Rakyat didirikan di kampungnya. Di sekolah itulah dia belajar. Namun hanya sampai kelas III, dari tahun 1952 hingga 1954 karena  terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya yang tercinta itu mengikuti sang ayah yang pindah ke Makassar. Ketika itu kondisi keamanan di Sinjai semakin mencekam.  Apalagi dengan terbunuhnya seorang anggota polisi yang ditengarai pembunuhnya adalah Zubair Kahar, komandan pemberontak yang saudara kandung Muhsin Kahar.  Ayahnya setiap saat mendapat panggilan untuk diinterogasi sehubungan dengan pembunuhan yang dihubungkan dengan anak kandungnya itu. Itu yang membuat sang ayah merasa terusik sehingga tidak betah lagi tinggal di kampung, memilih hijrah ke Makassar untuk mencari ketenangan.
Pindah Ke Makasar

Agak berat juga rasanya  meninggalkan kampung halaman yang telah membesarkannya itu. Betapapun bersahajanya kampung itu namun baginya banyak kenangan indah yang tidak mudah dilupakan. Letak desanya yang ada pada ketinggian dengan pepohonan yang rimbun selalu mengalirkan kesejukan. Apalagi jika memandang hamparan pulau-pulau di perairan Teluk Bone, memberi energi tersendiri dalam jiwanya.
Sulit terlupakan manis dan lezatnya pao apang. Ada juga penjang, jenis ikan teri benang, halus berwarna putih, munculnya hanya sekali dalam setahun. Biasanya dipanggang dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Makannya dicampur dengan garam, cuka atau jeruk nipis dan lombok. Sedap sekali. Juga ikan teri basah yang direbus pakai asam dicampur dengan biji jampu sereng (jambu monyet) yang masih muda, teramat sedap dijadikan lauk. Juga buah yang disebut coppeng ( jamblang, jambu keling), jampu salo’ (jambu air) dan jambu biji yang semuanya mudah diperoleh tanpa harus mengeluarkan uang.

Apalagi kakeknya (ayah dari ibunya) yang dikenal dengan panggilan Emme. Nama sebenarnya adalah Puang Adang sangat rajin berkebun. Pribadinya sangat menarik. Banyak sekali buah-buahan dalam kebunnya. Orang kampung mengenalnya sebagai orang tua yang rajin berzikir. Pada waktu mencangkul atau menyabit rumput dia lakukan sambil berzikir, kedengaran bergumam dari jauh. Tidak pernah mau menjual hasil kebunnya. Kalau hasil kebunnya dicuri orang lalu ada yang melaporkan kepadanya, Puang Emme hanya ketawa sambil menjawab, "Makessinni tu ko iyatona mmalangi alena, nasaba nakko iya' malangngi, depa nattentu napujina"[4]..   Dan masih banyak lagi kenangan yang mengandung nilai nostalgik yang sangat sulit dilupakan. Juga kehidupan orang desa yang diwarnai keramahan, gotong royong dan persaudaraan yang kental yang sulit ditemukan pada kehidupan masyarakat kota.

Kini dia harus berangkat meninggalkan kampung yang telah memberinya warna hidup baik fisik maupun jiwa, menuju kota Makassar, 227 Km dari kampungnya. Sebuah kota besar yang sudah lama dikenal namanya namun belum pernah hidup didalamnya. Informasi yang sering didengarnya bahwa kehidupan perkotaan adalah cenderung kejam. Tapi dibalik itu sering pula menangkap cerita bahwa di kota besar juga kita dapat menjadi orang besar, sesuatu yang dicita-citakannya.

Memprihatinkan, memang, kehidupan yang dijalaninya pada waktu bermula tiba di Ibu Kota Propinsi Sulawesi. Apa boleh buat terpaksa harus dijalaninya. Maklum orang tua tidak punya pekerjaan yang dapat mendatangkan uang. Tetapi karena orang tuanya seorang ulama yang kharismatik sehingga anggota masyarakat di lingkungan yang dia tempati yang kebanyakan berasal dari kampungnya, Sinjai, sehingga sang ayah ditempatkan secara proporsional.

Di Kampung Malimongan Baru (Jalan Pong Tiku dan sekitarnya sekarang) dipercayakan mengimami sebuah mesjid yang dikenal dengan nama Mesjid Lailatul Qadri sambil memberi tuntunan agama di mesjid itu. Lewat kegiatan ini keperluan hidup agak teratasi namun sangat jauh dari cukup. Untung sang Ibu sangat giat mencari nafkah untuk membiayai anak-anak yang sekolah. Baru anak yang tertua, Djunaid Kahar yang telah berumah tangga. Tapi belum sanggup juga membantu. Apalagi di rumah yang ditempati itu ternyata banyak juga keluarga yang nebeng. Keluarga dari kampung yang belum mempunyai pekerjaan tetap dan belum memiliki rumah tempat tinggal. Rumah ini dijadikan tempat transit sambil mencari lowongan kerja.

Ada keluarga dekat yang bernama Haji Muhiddin, yang lebih populer dikalangan keluarga dengan panggilan Tuang Muhidding. Jabatannya lumayan tinggi sebagai Menteri Kejaksaan Negara Indonesia Timur (NIT), cukup berjasa menampung beberapa orang keluarga bekerja di Kejaksaan.

Pemandangan baru yang dia saksikan yang sangat tidak mengenakkan perasaannya di Makassar adalah seringnya ada orang yang mabuk-mabukan dengan teriakan-teriakan yang tidak sedap didengar telinga. Mereka berkumpul di satu tempat yang disebut lontang.  Ditempat itu mereka minum ballo beramai-ramai sambil makan baluta, atau ikan, ayam atau bebek yang dipanggang. Sering juga terjadi perkelahian antara kelompok anak muda yang hanya disebabkan karena persoalan sepele, karena ketersinggungan perasaan atau karena persoalan perempuan, dll. Semuanya tidak pernah disaksikan dikampungnya.
Bintang Kelas

Setelah pindah ke Makassar, Muhsin Kahar meneruskan sekolahnya di kota itu. Ia diterima duduk di Kelas IV Sekolah Rakyat  No 30. Dijalaninya hingga tahun 1958. Di SR ini dia selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran termasuk pelajaran menggambar. Padahal semestinya murid-murid yang berada di kota lebih unggul dibanding murid-murid  dari pedalaman karena pelajarannya lebih teratur dan lebih tinggi materinya. Tapi kenyataannya tidak demikian. Murid-murid yang lahir dan besar di kota dikalahkannya semua. Dia pernah mengangkat nama sekolahnya karena ketika diadakan pertandingan menggambar antar sekolah dasar se Kota Besar Makassar (KBM), hasil coretannya dinilai terbaik. Dia juga sering di tugaskan oleh gurunya menyalin pelajaran di papan tulis karena tulisannya sangat bagus.
Ketika mengikuti ujian akhir Sekolah Rakyat dia mendapatkan nilai tertinggi. Sehingga sangat memungkinkan memilih sekolah favorit. Dia tidak memilih sekolah umum tapi mengincer sekolah agama yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 tahun).  Dia memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya karena disamping mempelajari agama juga termasuk sekolah yang sangat didambakan waktu itu. Karena tamatan sekolah ini tidak perlu lagi melamar kerja, langsung ditempatkan. Sekolah ini satu-satunya Pendidikan Guru Agama milik pemerintah di kawasan Indonesia Timur.

Satu kebanggaan tersendiri kalau dapat lolos masuk ke sekolah ini karena yang diterima hanya murid-murid yang berprestasi dan lulus test dilengkapi surat keterangan dokter. Disektor lain  sangat menguntungkan terutama bagi orang-orang yang tidak mampu dari segi pembiayaan seperti dia.  Karena siswa-siswa di sekolah ini setiap bulannya menerima tunjangan ikatan dinas (siswa-siswa menyingkatkannya dengan sebutan ID). Dia sangat senang karena dengan diterimanya di sekolah ini, sedikit dapat meringankan beban orang tua untuk pembiayaan sekolah.

Di sekolah ini dia juga selalu menjadi bintang kelas dan terkenal sebagai siswa yang pandai pidato. Disamping itu dia juga selalu menjadi ketua kelas hingga kelas VI. Dalam pertemuan-pertemuan selalu dia dipercayakan memimpin.  Memang sejak duduk di bangku PGAN 6 tahun itu dia sudah dikenal sebagai siswa yang berpengetahuan luas. Mungkin karena kerajinannnya membaca. Tunjangan ID-nya setiap bulan memang hampir tidak ada yang tersisa, semua dibelikan buku-buku. Tidak seperti teman-temannya  yang menjadi prioritas  adalah pakaian untuk penampilan. Maklum di sekolah itu bercampur antara cowok dengan cewek.

Ceweknya rata-rata cantik-cantik dan manis-manis. Muhsin Kahar sangat kurang perhatiannya kepada pakaian. Sehingga sering dia dengan tidak malu-malu menggunakan sarung ke sekolah kalau celananya sedang dicuci dan belum sempat kering. Dia juga akrab dengan kopiah hitam di kepalanya. Teman-temannya sering ketawa sinis melihatnya, karena tidak lazim, tapi dia cuek saja termasuk terhadap cewek-cewek manis. Karena tidak ada juga teman wanitanya yang akrab. Dia tidak pusing dengan kesinisan teman-temannya. Soalnya gurunya diam-diam saja menyaksikan keanehan itu. Mungkin karena dia termasuk siswa yang sangat berprestasi dari segi pelajaran dan sektor-sektor lain. Lagi pula peraturan tentang pakaian waktu itu belum seketat sekarang.

Hal lain yang menyenangkan dia belajar di sekolah ini karena dapat berkenalan dengan siswa-siswa yang berasal dari beberapa daerah seperti Ternate, Manado, Gorontalo, Sangir Talaud, Sulawesi Tenggara dan siswa-siswa yang berasal dari Sulawesi Selatan sendiri.

Meninggalkan Bangku Kuliah

Lulus dari sekolah lanjutan PGA Neg. 6 tahun juga dengan nilai tinggi. Sehingga mendapat tugas belajar[9] ke IAIN[10](Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Hanya satu tahun mengikuti kuliah lalu berhenti. Dia merasa tidak ada tambahan ilmu yang berarti yang didapat selama kuliah. Semua materi kuliah yang diberikan dosennya telah dibacanya. Akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah cukup menyita banyak waktu dan energi, sementara hasilnya jauh tidak seimbang dengan apa yang telah dikorbankan. Kalau sekedar untuk mendapatkan predikat sarjana bukan itu yang dia perlukan. Walaupun pada waktu itu titel sarjana sangat mahal, bisa membuat orang besar kepala. Menurut dia lebih tepat kalau aktif di organisasi, giat berda’wah dan gencar membaca. Itulah yang menjadi alasannya sehingga meninggalkan bangku kuliah.

Ketika dia telah menjadi pimpinan pesantren yang telah memiliki cabang di seluruh Indonesia, sering dia mengungkapkan bahwa, “Seandainya saya dulu meneruskan kuliah sampai sarjana, paling banter hanya menjadi kepala kantor Departemen Agama di Sulawesi Selatan, iutpun kalau memenangkan pertarungan, bergelut dengan urusan yang bertentangan dengan hati nurani, sebagaimana yang sering diungkapkan rekan-rekan bekas teman sekolahnya yang menduduki jabatan itu.

Terusik juga perasaannya kalau teman-teman sekuliahnya menganggap dia sombong tidak mau mengikuti kuliah karena telah mengetahui apa yang dikuliahkan oleh dosen-dosen. Tapi karena dia memiliki pandangan sendiri terhadap dunia perkuliahan yang banyak sekali menyia-nyiakan waktu berbincang ngalor ngidul antara teman-teman mahasiswa dan mahasiswi yang tidak ada hubungannya dengan perkuliahan, bahkan terkadang mengarah kepada hal-hal yang sebenarnya sangat tidak wajar dibicarakan. Apalagi sebagai mahasiswa-mahasiswi yang menyandang predikat mahasiswa-mahasiswi Islam.  Sehingga dia berfkir untuk amannya dia memilih berhenti dari kegiatan kuliah dari pada setiap hari menderita batin.

Dia merasakan apa yang diperolehnya selama ini lewat organisasi, membaca buku-buku, mengikuti ceramah-ceramah di mesjid dan belajar langsung kepada ulama-ulama serta berkutat dalam dunia da’wah, lebih banyak dari apa yang diperoleh lewat bangku kuliah. Apalagi kalau dosennya hanya menggunakan gaya diktator alias membuat dan menjual diktat.
Baca selengkapnya »
 

Template Information

Contact Us

Kotak Pesan

Random Post

husnah

statistics

visitor

Followers

Copyright © Hidayatullah Medan All Rights Reserved • Design by Dzignine
best suv • audi suv • infiniti suv