DEPAN

DEPAN
Photobucket

10 Keutamaan Puasa Ramadhan

Kamis, 26 Agustus 2010
0 komentar
sepuluh keutamaan orang-orang yang berpuasa yang ada pada umat ini.

Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa. Kata Nabi dalam satu haditsnya, “Pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim)

Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka, sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).

Rasul menambahkan pula bahwa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).

Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya ada nilainya. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”

Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya di mana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir.

Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim).

Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).

Abuya menegaskan bahwa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahwa puasa menempa tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.

Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).

Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).

Ketujuh, dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At Taubah: 112).

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahwa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahwa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Sembari mengutip al-Qur’an pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.

Kedelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktivitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”

Tentu, tidak dimaksudkan bahwa puasa itu dipenuhi dengan tidur. Bahkan harus sebaliknya, jauh lebih keras.Hanya saja, nilai tidur orang berpuasa di hadapan Allah berbeda dengan tidurnya orang yang tidak berpuasa.

Kesembilan, di antara cara yang Allah memuliakan orang yang berpuasa, bahwa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur, "seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…meski hanya seteguk air." (Hr. Abu Ya`la).

Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya. Mudah-mudahan kita termasuk bagian dari sepuluh keutamaan tersebut.
Baca selengkapnya »

Meraih Berkah Ramadhan

0 komentar
Bulan Ramadhan segera tiba. Tentu saja sebagai orang beriman, kita ingin mengisi bulan ini sebaik-baiknya. Karenanya, di antara yang perlu kita perhatikan adalah adab-adab dalam menjalankannya. Tujuannya, agar tercapai keselarasan antara perintah-perintah syariat dengan maksud pelaksanaan ibadah tersebut. Di antara adab-adab yang semestinya dilakukan antara lain:

1. Menyambutnya dengan bangga, gembira, dan bahagia. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ’Dengan Kurnia dan rahmat-Nya, maka dengan itu bergembiralah kalian. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” ” (Yunus [10]: 58)

Bentuk sambutan itu dengan memuji Allah yang telah memberi kita bulan mulia ini. Kemudian meminta pertolongan-Nya, agar mampu melaksanakan ibadah dengan baik.
2. Senantiasa makan sahur, karena berkah yang terkandung di dalamnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena pada makanan sahur itu terdapat barakah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Adapun makan sahur disunnahkan mengakhirkan, yakni hingga waktu sangat dekat dengan waktu fajar/shubuh.

3. Menyegerakan buka puasa. Diriwayatkan dari Sahal bin Saad, Rasulullah
bersabda, “Sesungguhnya Rasulullah bersabda: ‘Manusia (umat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
4. Mengawali buka puasa dengan memakan kurma basah. Diriwayatakan dari Anas Radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.” (Riwayat Abu Daud dan Hakim)
5. Selesai berbuka hendaknya berdoa. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Adalah Nabi Muhammad selesai berbuka beliau berdoa:——-arabnya—-
Artinya, telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah.” (Riwayat Daaruquthni dan Abu Daud)
6. Memperbanyak sedekah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. ia berkata: “Adalah Rasulullah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada Ramadhan untuk mentadaruskan al-Qur’an dan benar-benar Rasulullah lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.” (Riwayat Bukhari)
7. Menggalakkan shalat malam atau shalat tarawih. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Adalah Rasulullah menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib. Beliau bersabda: ‘Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Jama’ah)
8. Berusaha mendapatkan malam lailatul qadar. Diriwayatkan dari Aisyah: “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: Berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir.” (Riwayat Muslim)
Kita dianjurkan bersungguh-sungguh mendapatkan lailatul qadar ini karena memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah.
9. Melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Adalah Rasulullah mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Baca selengkapnya »

Bermurah Hati di Bulan Suci

Minggu, 22 Agustus 2010
0 komentar
Teladan kita, Baginda Rasul SAW adalah manusia yang paling murah hati (dermawan), terutama pada bulan–bulan Ramadhan

Oleh: Amiruddin Thamrin MA*

”Kami telah menentukan antara mereka penghidupan (rizki) mereka di dunia. Dan kami telah meninggikan beberapa derajat sebagian mereka atas sebagian yang lain, agar sebagian mereka dapat mengambil manfaat (mempergunakan) sebagian yang lain.”
[al-Zukhruf: 43/32]

Interaksi antara individu dalam masyarakat telah diatur oleh agama dengan begitu indahnya berdasarkan prinsip saling kasih sayang, saling hormat menghormati serta saling memberikan keuntungan.  Korelasi hubungan antara suami dan istri, antara pimpinan dan bawahan,  antara anak dan orang tua, antara si kaya dan si miskin, antara Muslim dengan saudaranya non Muslim, semua diatur atas dasar saling hormat menghormati sehingga semua manusia di dunia ini sejajar, tidak ada yang merasa lebih tinggi, lebih terhormat atau lebih berkuasa antara satu dengan yang lain.

Kaitannya dengan korelasi antara si kaya dan miskin, agama mendorong  umat untuk berupaya semaksimal mungkin dan bertawakal dalam mencari rezeki. Sekiranya kebutuhan masih belum tercukupi atau belum terpenuhi, islam tetap  melarang meminta-minta kecuali darurat sekali.

Agama melarang keras seorang Muslim untuk minta-minta, apalagi menjadikan minta-minta ini sebagai profesi. Kemiskinan bukanlah sesuatu yang memalukan dan keaiban dalam Islam, yang aib adalah kemalasan, makan rezeki tak halal dan mudah putus asa.

Baginda Rasul SAW pernah bersumpah bahwa seorang yang mencari rezeki dengan mencari dan menjual kayu bakar, jauh lebih baik dari pada orang yang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak diberi. Sebaliknya agama memuji orang yang bersikap muta’afif, yaitu orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain.

Sementara itu, pada saat yang sama, melalui ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW banyak sekali yang mendorong orang yang mampu untuk mengulurkan tangan, bersedekah dengan memberikan bantuan kepada orang yang tidak mampu, tanpa harus menunggu untuk diminta. Dengan demikian hubungan antara yang memberi dan diberi tetap mesra dan terhormat, hubungan saling membutuhkan, sehingga si kaya dapat memberi dengan penuh keikhlasan karena tanpa harus diminta, begitu pula kehormatan si penerima tetap terjaga karena mereka diberi tanpa harus meminta.

Hal penting lain dalam bersedekah hendaknya bantuan diutamakan bagi kerabat keluarga yang miskin terlebih dahulu, karena sebagaimana dalam sebuah hadits yang menekankan bahwa pemberian kepada fakir miskin merupakan sedekah, tetapi jika diberikan kepada kerabat keluarga yang miskin merupakan sedekah dan penyambung silaturahim, yakni mendapatkan pahala sedekah dan pahala silaturahim. Barulah setelah itu diperuntukkan bagi para fakir miskin secara umum, terutama yang muta’affif.

Karenanya, kepada yang kaya penderma atau badan yang mewakilinya untuk selektif dan teliti dalam mencari dan memberikan bantuan kepada fakir miskin agar tidak tertipu.

Saat seseorang mengulurkan tangannya kepada fakir miskin, pada hakekatnya fakir miskin tersebut juga membuka jalan, memberikan bantuan kepada si kaya yang mendermakan hartanya. Fakir miskin yang menerima sedekah tadi berarti telah mengulurkan tangannya demi kepentingan dan kemaslahatan si pemberi sendiri.

Bersedekah mengajak pelakunya kepada kelanggengan dan bertambahnya rezeki, terhindar dari petaka musibah, dapat menyembuhkan penyakit, memperoleh ganjaran pahala yang berlipat dan pada gilirannya insya Allah akan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya kelak.

Marilah kita jadikan bersedekah sebagai simbol dan syiar Islam, terutama pada bulan Ramadhan ini. Teladan kita, Baginda Rasul SAW adalah manusia yang paling murah hati (dermawan), terutama pada bulan–bulan Ramadhan.

Penulis tinggal di Damaskus-Suriah. Email: miruddinthamrin@yahoo.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
 
Baca selengkapnya »

Keutamaan Berpuasa di Bulan Ramadhan

0 komentar
Sepuluh keutamaan orang-orang yang berpuasa yang ada pada umat ini.

Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa. Kata Nabi dalam satu haditsnya, “Pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim)

Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka, sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).

Rasul menambahkan pula bahwa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).

Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya ada nilainya. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”

Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya di mana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir.

Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim).

Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).

Abuya menegaskan bahwa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahwa puasa menempa tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.

Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).

Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).

Ketujuh, dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At Taubah: 112).

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahwa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahwa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Sembari mengutip al-Qur’an pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.

Kedelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktivitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”

Tentu, tidak dimaksudkan bahwa puasa itu dipenuhi dengan tidur. Bahkan harus sebaliknya, jauh lebih keras.Hanya saja, nilai tidur orang berpuasa di hadapan Allah berbeda dengan tidurnya orang yang tidak berpuasa.

Kesembilan, di antara cara yang Allah memuliakan orang yang berpuasa, bahwa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur, "seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…meski hanya seteguk air." (Hr. Abu Ya`la).

Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya. Mudah-mudahan kita termasuk bagian dari sepuluh keutamaan tersebut.
Baca selengkapnya »

Munas Hidayatullah

Jumat, 28 Mei 2010
0 komentar

Tinggal beberapa lagi Hidayatullah akan menggelar hajatan besar, berupa Musyawarah Nasional (Munas). Munas merupakan institusi tertinggi dalam pengambilan keputusan. Hal-hal pokok dan mendasar yang menyangkut  dinamika organisasi diputuskan dalam forum besar, baik yang menyangkut perubahan Pedoman Dasar Organisasi, Program Kerja Umum, maupun pergantian kepemimpinan.
Tidak seperti organisasi pada umumnya, Hidayatullah tidak terbiasa dan tidak mentradisikan  Munasnya dengan  meramaikan  bursa calon “Ketua Umum” maupun kepengurusan yang lain. Justru yang lebih ramai adalah membicarakan soal “Program Kerja Umum” yang menjadi mandat   Munas kepada Ketua Umum terpilih. Soal pemilihan Ketua Umum itu bukannya tidak penting, tapi yang lebih penting adalah apa yang dimandatkan kepada Ketua Umum, baru bicara soal siapa yang paling sesuai untuk menjadi mandatarisnya.

Alhamdulillah, Hidayatullah tidak kekurangan kader terbaiknya untuk menjadi Ketua Umum. Masing-masing kandidat mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Masalahnya menjadi sederhana, karena yang akan dipilih adalah kader terbaik yang paling sesuai dengan tugas dan mandat yang akan dipikulkan kepadanya. Ini bukan pilihan ideologis, sebab semua kandidat pastilah kader-kader terbaik yang mempunyai ideologi yang sama, cita-cita perjuangan yang sama, spirit dan semangat yang sama pula. Karenanya, siapa pun yang terpilih nanti harus diterima dengan lapang dada.

Kami patut bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT)  bahwa di Hidayatullah sejak awal menjadikan ukhuwah sebagai pondasi  organisasi. Oleh karenanya, sepanjang sejarahnya di Hidayatullah tidak dikenal istilah “kubu-kubuan”.  Di sini tidak popular pengelompokan suku. Pernikahan antar suku bahkan sudah dipelopori oleh pendiri dan perintis organisasi ini, dan tradisi itu terus berkembang hingga sekarang. Secara berkelakar, Allahu yarham, Ustadz Abdullah Said dulu pernah mengatakan, ”Suatu saat nanti, anak-anak kita tidak menyebut dirinya berasal dari suku Bugis, suku Jawa, atau suku mana saja. Mereka akan dengan bangga mengatakan: saya adalah anak Indonesia.”

Musyawarah di Hidayatullah selama ini bisa berlangsung alot, bahkan menegangkan. Akan tetapi, masing-masing peserta tetap dapat mengendalikan emosi. Mempertahankan pendapat tidak dilarang, asal tetap menjaga etika dan kesantunan dalam berbicara. Adab-adab musyawarah yang selalu disosialisasikan secara intensif  sama sekali bukan dimaksudkan untuk membungkam, apalagi membatasi hak berpendapat, tapi semata-mata menjadikan musyawarah itu dapat berjalan indah, lancar, tanpa ada yang terlukai hati dan perasaannya.

Musyawarah Hidayatullah tidak ingar bingar. Kalau ada publikasi, itupun dalam batas-batas yang wajar dan  proporsional. Kita berkentingan terhadap publikasi karena organisasi ini milik umat, bukan milik pribadi-pribadi. Umat perlu tahu perkembangan Hidayatullah sampai hari ini, sebab mereka tidak bisa mengikuti setiap hari. Mereka tetap mendukung, walau tidak terlibat  setiap hari.

Kalau  Anda ingin datang untuk melihat peserta sidang saling melempar kursi atau menggedor meja, jangan datang ke Munas Hidayatullah. Dijamin di sini tidak akan bakal terjadi. Hidayatullah akan melaksanakan Munasnya dengan tertib, lancar, dan bermutu tinggi, Insya Allah semua akan berjalan mulus, beretika, beradab, dan santun. *SAHID Mei 2010
Baca selengkapnya »

Tak Ada Jalan Buntu, Selama Yakin Pada Allah

Selasa, 06 April 2010
0 komentar
Dalam mengarungi samudra kehidupan, menusia laksana sebuah roda. Kadang ia berada di atas, kadang pula ia berada di bawah. Begitu pula dengan kisah hidup Azam,  pria asal Bojonegoro, Jawa Timur.

Dikisahkan olehnya, ketika ia dalam masa kejayaan, bukan hanya rumah yang menjadi simbol kekayaannya. Mobil yang berjumlah tiga buah, juga menjadi fasilitas yang melengkapi kemewahan yang ia miliki. Belum lagi hasil dari usaha yang ia geluti, jual beli beras, yang omzetnya mencapai 25 ton per-bulan.

Namun malang tidak bisa dihindari, ketika roda kehidupan bergelinding membawanya ke posisi dasar. Usahanya bangkrut, dan utang bertebaran di sana-sini.  Inilah kisahnya yang ditulis dengan bahasa tutur.

Kisah ini saya mulai dari sejarah masuknya saya ke lembaga dakwah. Saya bergabung pada tahun 1995, setelah menyelesaikan studi di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), Surabaya tahun 1994, jurusan Fisika.

Langkah bergabung dengan lembaga dakwah bukan langkah mudah. Keputusan ini,  sungguh sangat bertentangan dengan keinginan orangtuaku yang ingin aku menjadi seorang pegawai negeri (PNS).  Maklum, di desa, jarang anak mengenyam bangku kuliah. Apalagi, statusku sebagai sarjana Fisika. Merekapun selalu memaksaku, bahkan tidak jarang dengan menggunakan bahasa yang –kadang-kadang- tidak mengenakkan. Namun, laksana karang di lautan, tekadku untuk berdakwah dan bergabung di sebuah lembaga dakwah tak pernah runtuh, sampai akhirnya mereka pun menyerah.

Saya memilih sebuah lembaga dakwah,  sebagai ‘pelabuhan’, karena saya melihat keindahan Islam di sana, yang sebelumnya tidak pernah saya saksikan di beberapa lembaga lain. Bagaimana para penghuninya menghormati tamu, sungguh mengesankan. Belum lagi melihat para awak yang senantiasa menjaga keistiqomahan dalam menunaikan shalat jama’ah dan shalatul lail (tahajjud), menjadi daya pengikat tersendiri. Pemandangan semacam inilah yang membuat hatiku berbunga-bunga, dan mendesakkan hati untuk segera berbabung.

Selain itu, dulu, di era Orde Baru (Orba) yang sangat otoriter ditambah kejaman Orba, rekayasa intelijen kepada umat Islam yang sangat kasar, membuatku merasa enggan untuk mendaftarkan diri menjadi PNS.

Setelah tiga bulan aktif, saya memutuskan untuk mengakhiri masa lajang, maka nikahlah aku dengan seorang wanita asal Surabaya,  yang notabenya adalah teman kuliah.

Sambil menikmati bulan madu, aku mulai aktif di lembaga dakwah. Berbagai amanah pernah saya emban, mulai dari wakil kepala sekolah (Waka), bendahara Yayasan, dan berbagai amanah lain.

Apapun yang diamanahkan oleh lembaga kepadaku, dengan sekuat tenaga akan aku lakukan dengan sebaik-baiknya.

Merintis Bisnis


Ditengah-tengah kesibukan sebagai aktivis dakwah,  pada 1998, aku memberanikan diri untuk terjun di dunia enterpreunership (kewirausahaan). Dan bisnis yang menjadi incaran adalah jual-beli beras dari desa ke kota.

Bisnis ini aku pilih, karena memang pada saat itu, pasar Surabaya sedang membutuhkan asupan beras yang tinggi. Peluang inilah yang aku baca, kemudian terjun di dalamnya. Adapun daerah asal penyuplaian, saya pilih Bojonegoro karena kabupaten ini merupakan salah satu penghasil beras terbanyak di Jawa Timur (Jatim).

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hanya dalam waktu satu tahun, aku mampu meraih keuntungan yang cukup besar.  Aku telah mampu mengontrak rumah yang lumayan megah. Mobil tidak hanya satu, aku beli tiga sekaligus. Bila dikalkulasi, omzetku saat itu, mampu mencapai 25 ton, tiap bulannya. Padahal, jujur, modal yang saya gunakan untuk memulai bisnis ini hanya keberanian. Tak sepeser pun uang saya keluarkan untuk memulai bisnis ini. Bukan karena apa-apa, tapi memang tidak ada.

Saya datang ke Bojonegoro menemui salah satu juragan beras di sana, kemudian menjelaskan prihal bisnis yang sedang saya rancang. Ia menyetujui untuk menjadi mitra kerja. Pada awal pengiriman, dia hanya memberikan 3 ton. Lambat-laun, setelah mengetahui perkembangan bisnis ini sangat masif, beliau pun akhirnya berani mengirim seberapapun jumlah yang saya butuhkan.

Bisnis ini terus berjalan dengan lancar, hingga memasuki tahun 2001. karena begitu mudahnya rizki hinggap ke pangkuanku, maka sempat timbul sifat arogansi (sombong) dalam diri. Pernah pada suatu saat, aku hampir ‘ketiban durian jatuh’. Uang sebesar Rp 2,2 Milyar hampir aku dapat namun akhirnya lenyap. Padahal, bisa dikatakan uang tersebut tinggal sejengkal saja menjadi hak milik saya.

Usut punya usut, mungkin, penyebabnya karena kesombonganku. Ceritanya, ketika mengetahui akan mendapat rizki nomplok, aku berkata ke pada istriku, “Bu, lihatlah, siapa diantara teman-temanku yang mampu mendapatkan uang Rp. 2,2 Milyar dalam umur semuda aku?” Maklunm kala itu, umurku masih 34 tahun. Tak disangka, kekotoran hati seperti itulah, rupanya,  yang kemudian menjadi  boomerang  dan biang kehancuran bisnisku.

Roda Berbalik


Selain sifat takabbur yang pernah menyelinap di hati, aku merupakan orang yang paling sering ditipu oleh mitra bisnis. Meskipun aku telah berhati-hati dalam bertindak, tapi tetap saja penipuan itu berlanjut. Mungkin itu adalah salah satu bentuk teguran Allah kepadaku. Puncak dari penipuan itu terjadi pada tahun 2002. saat itu, tersebutlah P.T Pohon Mas dan Goldquest yang mengajak untuk berkerja sama dengan cara menanam saham. Setelah dijelaskan bagaimana sistem kerjanya, aku pun tertarik. Uang sebesar Rp 50 juta, aku serahkan langsung tanpa curiga. Lalu apa yang terjadi? Ternyata itu hanyalah modus penipuan. Maka lenyaplah uang itu entah-brantah.

Mulai dari sinilah bisnisku macet. Untuk menutupinya, mobil aku jual, selain itu aku pun berusaha mencari pinjaman ke teman-teman. Karena tidak mencukupi, maka akhirnya aku putuskan untuk meminjam di beberapa Bank seperti; BRI, BNI, Niaga, Permata. Gali lobang untuk tutup lobang.

Aku benar-benar menjadi orang yang terlilit hutang. Bahkan, karena tidak mampu lagi membayar kontrakan rumah,  aku dan keluarga harus menumpang di rumah mertua.

Tiga tahun kondisi memprihatinkan tak juga berlalu.  Di tengah kekalutan itu, ada kabar yang mengagetkan bahwa rumah yang kami tempati itu akan dijual oleh mertua. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga. Aku tak bisa berfikir lagi, mau dibawa kemana keluarga saya ini?. Meskipun saya punya banyak famili, tapi aku tidak akan melibatkan mereka dalam kasus ini.

Singkat cerita, rumah mertua akhirnya terjual seharga Rp. 130 Juta. Dari hasil penjualan, bapak (mertua) memberi kami Rp. 20 juta. Namun belum genap berumur satu minggu, uang itu sudah ludes untuk mencicil hutang-hutangku yang menumpuk. Istriku menangis, sebab, sedianya uang itu akan kamu gunakan untuk mengontrak rumah. Tapi, apalah daya, si-pengutang terus berdatangan menagih.

Di tengah kekalutan, aku datangi temanku. Aku sampaikan permasalahanku dan aku utarakan bahwa saat ini aku sedang butuh kontrakan. Melalui perantaranyalah aku dipertemukan dengan seorang pemilik rumah. Setelah bertemu si-empunya, aku dibingungkan dengan uang kontrakan yang mencapai Rp 16 juta  yang tak mungkin kumili. (sebelumnya, rumah ini ada yang ingin mengontrak sebesar Rp. 36 juta), Lallahu’alam, Karena kelembutan hatinya, kami dipersilahkan menempati rumah tersebut. Sebagai ganti, aku diminta untuk bekerja dengannya. Rumah berukuran 9x10 meter persegi itulah, yang sejatinya bekas kantor, akhirnya menjadi tempat kami sekeluarga bernaung hingga saat ini. Allahuakbar! Puji syukur ku terus kuucapkan kepada Allah yang telah memudahkan segala urusanku.

Membangun Strategi


Setelah mendapat tempat tinggal yang pasti, saya mencoba menata ulang kehidupan. Aku melamar untuk menjadi agen sebuah majalah Islam. Al-hamdilillah diterima. Pelangganku juga lumayan banyak. Untuk majalah, berkisar 30 orang, buletin 50. Selain itu, aku juga berjualan kecil-kecilan. Karena pernah aktif di sebuah lembaga zakat,  akupun ditawari untuk menjadi konsultan seuah lembaga zakat.

Selain disibukkan dengan urusan di atas, aku juga diamanahi untuk merintis badan ‘amil zakat.

Melalui aktivitas-aktivitas inilah, aku bisa kembali bangkit dari sebelumnya. Bahkan, pada bulan Oktober tahun lalu, rumah yang kami (yang semula kontrak telah resmi jadi milik kami). Karena aku telah membelinya seharga Rp 180 juta.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya mampu menanggung beban seberat ini?dan mampu kembali bangkit?. Jawabannya mungkin satu. Dalam menjalani kehidupan, aku memiliki satu prinsip yang membuatku teguh dan tak mudah runtuh.

“Tidak ada jalan buntu selama kita pasrahkan semua urusan kepada Allah.” Sekalipun saat itu saya tidak memiliki sepeser uang, tetapi dengan prinsip itu, Allah senantiasa memperkuat diriku untuk mampu menghadapi ujian demi ujian. 

Sebagai gambaran betapa mujarabnya prinsip tersebut, pernah pada bulan suci Ramadhan, kami kebingungan untuk membayar zakat fitrah. Uang yang kami punya tidak cukup untuk memenuhi kewajiban itu. Namun alhamdulillah, tanpa disangka-disangka,  Allah memberi rizki kami melalui salah satu sahabatku. Sangat luar biasa. Saya senantiasa berpesan kepada Anda, mulai saat ini,  libatkanlah Allah dalam setiap urusan kita. InsyaAllah, semuanya akan terasa lebih mudah.
Baca selengkapnya »
 

Template Information

Contact Us

Kotak Pesan

Random Post

husnah

statistics

visitor

Followers

Copyright © Hidayatullah Medan All Rights Reserved • Design by Dzignine
best suv • audi suv • infiniti suv